Hati-Hati Dalam BerSEDEKAH
Assalaamua'laikum, Warohmatulloohi Wabarokaatuh..
SEDEKAH adalah suatu amalan sunah yang dicontohkon Rosululloh SAW dan bisa dilakukan dalam berbagai cara, tapi hati-hati, jangan sampai kita melakukan kesalahan bersedekah.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap persendian manusia wajib disedekahi, setiap hari yang padanya matahari terbit. Beliau bersabda,”Mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, membantu seseorang dalam masalah kendaraannya lalu menaikannya ke atas kendaraannya atau mengangkat bawang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah.
![]() |
| https://catatanciis.blogspot.com/2022/04/hati-hati-dalam-bersedekah.html |
Beliau ﷺ bersabda, “(Mengucapkan) kalimat yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dia berjalan menuju masjid untuk sholat adalah sedekah dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Nabi ﷺ bersabda:
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Ada seseorang yang datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab” “Bersedekahlah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih berkeinginan kaya.
Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai tenggorokan, maka kamu baru berkata: “Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hal si fulan (ahli warisnya),” (HR. Bukhari dan Muslim).
Meski banyak keutamaannya, sedekah harus dilakukan dengan ilmu agar tidak menjadi sia-sia atau malah menjadi bumerang bagi kita.
Dalam hadits shahih riwayat Muslim disebutkan bahwa salah satu dari 3 orang yang pertama masuk neraka adalah seorang yang bersedekah, namun ia melakukan kesalahan fatal dalam bersedekah. Apakah itu?
Mari kita sama-sama simak jawabannya....
Berikut ini adalah keslahan yang banyak dilakukan orang dalam bersedekah, yaitu:
1. TIDAK IKHLAS
Ikhlas itu pekerjaan hati, namun sebenarnya ia bisa terlihat jelas juga dalam sikap dan perbuatan seseorang. Ada orang yang masuk neraka padahal rajin bersedekah, karena ia melakukan sedekah tersebut dengan harapan mendapat pujian orang lain dan pencitraan sebagai orang dermawan.
Tidak ikhlas sebenarnya salah satu pertanda kita telah melakukan syirik, yakni menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tujuan, sebagai kecintaan. Oleh sebab itu, belajar ikhlas dalam bersedekah sangat penting dilakukan.
Berikut ini potongan hadits mengenai salah satu dari tiga orang pertama yang masuk neraka:
“Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya).
Allah bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka,” [HR. Muslim, shahih].
2. Bersedekah hanya untuk mendapat ganti berkali lipat di dunia
Memang benar Allah sendiri yang menjanjikan pahala dan ganjaran berkali lipat pada siapapun yang mau bersedekah, akan tetapi jika kita bersedekah dengan niat hanya untuk mendapat ganti harta dunia, ya ampun… rugi sekali, karena hanya itulah yang akan kita dapatkan.
Betapa banyak orang yang bersedekah 1 juta kemudian mendapat ganti hingga 10 juta, sedekah 100 juta mendapat ganti 1 Milyar, kisah-kisah dan testimoninya ada sangat banyak, tapi jangan terjebak sampai di sini saja, karena bisa jadi di akhirat kelak kita tak akan memperoleh kebaikan apapun dari sedekah yang niatnya seperti ini.
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)
3. Menyakiti Perasaan si Penerima
Bersedekah tapi terus-terusan mengungkit sedekah tersebut, astaghfirullah… jelas bahwa pahala sedekahnya menghilang tiap kali kita menyebutkan jasa kita pada orang tersebut.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264).
4. PAMER
Sedekah cuma sekali, tapi berjuta orang harus tahu sedekah kita tersebut, hati-hati terjebak riya’ atau syirik kecil.
Memang Allah memperbolehkan menampakkan sedekah, tentu dengan tujuan memotivasi orang lain untuk turut bersedekah. Akan tetapi, menyembunyikan sedekah adalah hal yang lebih baik lagi dan perlu kita lakukan.
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 271).
5. Sedekah dari harta HARAM
“Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)” (HR. Muslim no. 224).
Tidak perlu ditanya lagi, biarpun 90% uang korupsi dipakai untuk sedekah, kemungkinan besar Allah akan menolak amalan tersebut. Dapatkanlah harta dengan cara baik dan halal. Allah hanya menerima apa yang baik-baik, termasuk sumber uang sedekah kita.
6. Tidak memanfaatkan kondisi, waktu dan tempat yang utama untuk bersedekah
Ada beberapa waktu, kondisi atau tempat di mana sedekah bisa berlipat ganda, seharusnya setiap orang perhatian dengannya:
a. Saat masa krisis, bencana dan kebutuhan hidup melilit.
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14)
“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al Balad: 11-14). Memberi makan ada hari “dzi masghobah”, maksudnya adalah pada masa kelaparan, ketika makanan menjadi langka, di masa semua kebutuhan terfokus pada makanan. Lihat Tafsri Ath Thobari, 15: 255.
b. Saat peristiwa yang menakutkan seperti saat terjadi gerhana matahari atau saat peperangan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 901)
c. Sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“ (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim). Sedekah termasuk amalan yang baik yang dilakukan di awal Dzulhijjah.
d. Bulan Ramadhan
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 1902 dan Muslim no. 2308).
Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 270.)
7. Tidak sedekah kepada orang terdekat terlebih dahulu
Sesungguhnya kita diminta untuk bersedekah mulai dari orang yang kita tanggung terlebih dahulu. Jangan sampai kita memberi sedekah untuk anak yatim dan orang dhuafa di luar sana, tapi kerabat kita yang yatim dan dhuafa tidak kita pedulikan. Astaghfirullah.
Siapa lagi yang bisa membantu kerabat dan tanggungan kita selain diri kita?
“Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Bukhari)
Maka biasakan memperhatikan orang-orang yang menjadi tanggungan kita, sudahkah mereka makan, sudahkah kebutuhan mereka terpenuhi, sudahkah kehidupan sehari-hari mereka tercukupi? Barulah kita bersedekah pada yang lainnya, ketika masih ada kelebihan harta yang dimiliki. Wallaahualam.






Posting Komentar untuk "Hati-Hati Dalam BerSEDEKAH"